Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018
Review Terminal Kepiting Solo  Jadi beberapa waktu lalu aku diajak teman untuk mencicipi makanan, hitung-hitung untuk refreshing dari beberapa tugas yang buat kepala pening. Maka, akhirnya aku dan teman memutuskan untuk kulineran di Solo, kita berangkat tidak hanya berdua, melainkan berempat, biar tambah seru dan rame. Piliihan lokasi jatuh pada Terminal Kepiting Solo. 1. Ngicipin rasa Seafood dengan cara unik dan berbeda Ketika sampai pada lokasi, kita memilih menu masakan yaitu paket. Paket terdiri dari kepiting,udang, cumi, kerang hijau. Selanjutnya aku mau jelasin soal tastenya nih, ga afdol rasanya kalau review makanan tanpa membahas soal taste atau rasa. Berhubung kita memilih varian yang tidak memakai cabai, maka memang tidak pedas. Dari segi tingkat kematangan daging seafood menurut aku sudah pas jadi masih terasa tekstur seafoodnya. Aku paling suka sama cuminya, karena daging cuminya matangnya bisa pas, dan kenyal. Udangnya juga terasa crispy walau bukan digoren...

Pesan dari Bapak Supardi Djoko

Waktu itu, entah tanggal berapa, tepatnya aku lupa. Maklumin aja yak, udah efek umur mungkin yang tua. Tapi gapapa, yang terpenting ada beberapa hal yang ku inget, sehingga aku bisa menyampaikan ke kalian. Aku masih ingat beberapa point 1. Tentang menulis Bp Supardi Djoko Darmono tidak begitu mematok referensi dari siapa, yang penting kita harus sering membaca. 2. Tentang penggunaan kalimat gaul, beliau mengakui memang mengikuti perkembangan zaman, dan kata beliau harusnya kamus KBBI juga perlu pembaharuan. 3. Beliau juga bilang bahwa sejatinya kalau kita menulis kita harus punya gaya kepenulisan sendiri, yang membuat kita beda dari yang lain. 4. Beliau bilang bahwa karya buku yang difilmkan sejatinya tidak mengurangi esensi dari buku itu, justru akan menambah daya tarik si buku 5. Beliau bilang bahwa kesalahan saat orang meresensi buku adalah membandingkan buku yang masih dalam bentuk cetakan buku dengan buku yang sudah difilmkan, karena seharusnya membandingkan itu harus seba...

Bercengkrama Setengah Hari

Sabtu, 14 April 2018 disaat para sejoli sibuk menelfoni gebetannya untuk mengajak liburan, katanya sih biar romantis, sedangkan jomblo yang kayak saya memutuskan pertemuan dengan seseorang “cewek” , jangan salah sangka bukan gebetan hehehe, dia teman saya. Inda, seorang teman yang saya kenal dari sebuah organisasi dikampus, sayangnya bukan di warung burjo, yalah kalau di warung burjo mungkin tak sekedar kenalan tapi traktiran. seperti orang kantoran atau pejabat, janjian kita memang didasari suatu kepentingan. Kepentingan untuk mencari alat-alat dapur, mangkok-gelas-piring (cuman kurang nasi lauk pauk ). Tempat yang ditujupun strategis, ga perlu mahal, gini-gini keluar modal, dan itu adalah Sarde jangan tambah huruf n nanti jadinya masakan ikan kaleng, uh gurih-gurih lezat.  *** SARAPAN *** Di awali sarapan pagi, sekitar pukul 10.00, disertai rasa lapar dan kebingungan makan dimana, kalau saya bilang ke Inda, yang nasinya lumayan banyak aja, maklum kalau siang ususnya ...

Antara Saya dan Boy Candra

Hai reader , teruntuk para penggemarnya Boy Candra, saya menulis ini bukan berarti sedang menyalakan kompor di mata kalian yang melihat judul ini, karena saya takut akan membuat perasaan kalian meledak, kayak gas elpiji warna ijo yang sering digembor-gemborkan karena telah berhasil melahab rumah sehingga para warga menangis, dan saya tak ingin membuat kalian menangis. Tahu nggak kenapa, karena saya tak punya tisu, silahkan kalian beli di indomart atau warung terdekat hehe. Antara Saya dan Boy Candra ? pasti judulnya nyeleneh gitu, gapapa kan sekali-kali, nyeleneh asalkan fakta. Alhamdulilah kalau dibaca Boy Candra, kalau nggak saya lilo legowo.  Jadi ada apa diantara saya dan Boy Candra ? Dengerin dulu, saya mau cerita.. Ceritanya waku itu saya mengikuti acara meet and great di sebuah toko buku yang berada di sebuah kota, yang menahan saya untuk sebuah buku diktat gelar, sebut saja toko itu bernama Togamas. Malam-malam saya berangkat, sendirian, maklum saya belum ...

Saya, Segerombolan Mas-mas, dan Kursi Panjang

Selamat pagi gais Ceritanya hari ini aku mau berbagi kisah, kalau biasanya aku nulis puisi di blog yang kemudian aku post di ig, biar orang orang nanti mengira aku sedang kenapa sedih galau galau gak jelas karena si doi.. . . Wkwk maapkan pencintraan sebab hidup tanpa pencitraan bagai masak bubur gak pakai daun salam. . . Jangan salah, terkadang hidup tanpa pencitraan ada baiknya juga, yoi gais tergantung kita pencitraan yg bagaimana. . . Lanjut cerita nih gais, masuk ke view cerita Jumat, 9 maret 2018. 18.00 Ceritanya aku lagi punya hal yg harus ku kerjain nih gais, sambil bawa laptop kecil, handphone dan colokan penyengat listrik aku cari tempat yang kaya wifi tapi ga dermawan, soalnya gak gratis wifi, minimal buat basa-basi harus pesen makanan. Yes, bang, neng. Karena itu tempat makan dan nongkrong, ya seperti cafe yg letaknya di belakang kampus. Aku ga recomen ngerjain di kos soalnya pasti ujung ujungnya aku bakal molor kalau udah lihat bantal sama selimut. Mata say...

Titik Nol itu ada

Dear, 1 maret 2018 Tepat di awal ini, masih berada di titik nol, sedangkan yg lain mungkin sudah setengah jalan. Disisi ini mungkin akan tertatih perlahan berjalan sendirian dg sedikit belas kasih orang orang yang diminta agar ia peduli. Di titik ini masih terdiam, ingin berjalan tapi entah mengapa mengumpulkan niat bagai harus mengambil durian dari pohonnya. Susah, sangat susah. Jika di ibaratkan ketika bersemangat mungkin akan berlari untuk mengejar orang lain yang telah memasuki gerbong kereta. Hingga ngos ngosan, dengan napas tersengal sengal, mungkin akan seperti itu hidup masih berada di titik 0. Diam bukan berarti malas, hanya saja butuh paksaan untuk bertindak baik, bukan lagi dorongan. Beberapa dari mereka sudah membuat target ibarat film trinity the naked travelller , hanya saja target mereka bukan mendaki tapi beragam, yang terkadang target itu nampak rahasia. Tp jika terwujud itu seperti kejutan karena sebagian dari orang orang tiada malu mempublishnya " y...

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at

Feeds

Tiga - Tiga Sembilan - Sembilan  Ya, aku sedang melakukan perhitungan  Bukan, soal hasil dagangan  Atau bukan pula tanggal jadian . . . . . Skip skip,  mata melihat foto diri sibuk memilah milah  Gambar apa yang pantas tanpa harus wah Sebab, aku kurang percaya diri jika wajah Sebenarnya pula aku kurang suka selfi cukup jodoh yg dikirim Tuhan saja yg melihat anggunku ini . . . Wahai kamu, jangan merasa heran juga Katanya aku kurang suka selfi  Lalu bertanya : aku masih menemukan foto alai mu satu dua Sini, ku bisikkan  Kalau aku kurang suka bukan berarti tidak . . . .  Ya, satu dua foto itu hanya perwakilan Supaya orang lain paham siapa pemiliknya Itu saja  . . . . . Wahai kamu, tolong pula jangan marah Feed itu membuat instagrammu penuh  Feed itu membuat kamu kehilangan gambar yg kamu sebut itu spesial . . . . . . Benar saja, dia belum tahu bagaimana Mengun...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...