Langsung ke konten utama

Sepi Disepuluh Februari


  • Aku mencoba melawan waktu

Tapi aku tak bisa menolak lupa 
Aku mencoba memejamkan sendu 
Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada 

Berpaling 
Merinding diujung ujung hari 
Aku takutkan, tapi tak ingin pusing 
Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini 

Tentang kepergian, yg membawa ke sosok
Sosok itu orang baru 
Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu 
Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku 

Sejelas mataku memandang foto itu kamu
Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan 
Untuk orang lain bukan ? 
Karena untuk daku itu hanyalah angan

Hai, kenangan 
Kamu mungkin lupa sepuluh februari 
Penting juga tidak, ya. Aku ini ..
Hanya masalalu yg menolak sepi 

Hai kenangan, 
Mungkin yg kamu tahu saat itu
10 februari aku terlahir kembali 
Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa


Pagi ini disepuluh februari 
Segelintir orang menyatakan selamat 
Seperti biasa hanya membalas terimakasih 
Tiada hingar bingar 
Seperti inginku yg seharusnya 10 februari
Biarkan saja terlewati menerobos sunyi

Sepi disepuluh februari 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...