Langsung ke konten utama

Feeds

Tiga - Tiga
Sembilan - Sembilan 
Ya, aku sedang melakukan perhitungan 
Bukan, soal hasil dagangan 
Atau bukan pula tanggal jadian
.
.
.
.
.

Skip skip, 
mata melihat foto diri
sibuk memilah milah 
Gambar apa yang pantas tanpa harus wah
Sebab, aku kurang percaya diri jika wajah
Sebenarnya pula aku kurang suka selfi
cukup jodoh yg dikirim Tuhan saja yg melihat anggunku ini
.
.
.


Wahai kamu, jangan merasa heran juga
Katanya aku kurang suka selfi 
Lalu bertanya : aku masih menemukan foto alai mu satu dua
Sini, ku bisikkan 
Kalau aku kurang suka bukan berarti tidak
.
.
.

Ya, satu dua foto itu hanya perwakilan
Supaya orang lain paham siapa pemiliknya
Itu saja 
.
.
.
.
.
Wahai kamu, tolong pula jangan marah
Feed itu membuat instagrammu penuh 
Feed itu membuat kamu kehilangan gambar yg kamu sebut itu spesial
.
.
.
.
.
.

Benar saja, dia belum tahu bagaimana
Mengunggah foto tanpa penuh  
Bantu dia untuk membuat feed
Benar saja, kamu belum tahu bagaimana 
Membuat yang spesial lebih spesial
Maka, jangan marah dulu 
Dia. Hanya tak mau yg spesial diumbar umbar 
Karena ini spesial bukan komersil
.
.
.
.

Sabar ya, terkadang membuat feed itu susah
Terasa berat untuk mempertahankan yg tertata 
Layaknya kamu,  terasa berat untuk mempertahankan yg terjaga
.
.
.
.

Karena feed itu bisa berubah kapan saja, Seperti emosi manusia
.
.
.
.
layaknya feed
Jika konsisten tiada berubah
Semua akan terlihat indah
Seperti perasaan yang konsisten, selalu sama 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...