Langsung ke konten utama

Pesan dari Bapak Supardi Djoko

Waktu itu, entah tanggal berapa, tepatnya aku lupa. Maklumin aja yak, udah efek umur mungkin yang tua. Tapi gapapa, yang terpenting ada beberapa hal yang ku inget, sehingga aku bisa menyampaikan ke kalian.

Aku masih ingat beberapa point
1. Tentang menulis Bp Supardi Djoko Darmono tidak begitu mematok referensi dari siapa, yang penting kita harus sering membaca.
2. Tentang penggunaan kalimat gaul, beliau mengakui memang mengikuti perkembangan zaman, dan kata beliau harusnya kamus KBBI juga perlu pembaharuan.
3. Beliau juga bilang bahwa sejatinya kalau kita menulis kita harus punya gaya kepenulisan sendiri, yang membuat kita beda dari yang lain.
4. Beliau bilang bahwa karya buku yang difilmkan sejatinya tidak mengurangi esensi dari buku itu, justru akan menambah daya tarik si buku
5. Beliau bilang bahwa kesalahan saat orang meresensi buku adalah membandingkan buku yang masih dalam bentuk cetakan buku dengan buku yang sudah difilmkan, karena seharusnya membandingkan itu harus sebanding

Nah itu, gais semoga bermanfaat dalam dunia kepenulisan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...