Langsung ke konten utama

Saya, Segerombolan Mas-mas, dan Kursi Panjang

Selamat pagi gais
Ceritanya hari ini aku mau berbagi kisah, kalau biasanya aku nulis puisi di blog yang kemudian aku post di ig, biar orang orang nanti mengira aku sedang kenapa sedih galau galau gak jelas karena si doi..
.
.
Wkwk maapkan pencintraan sebab hidup tanpa pencitraan bagai masak bubur gak pakai daun salam.
.
.

Jangan salah, terkadang hidup tanpa pencitraan ada baiknya juga, yoi gais tergantung kita pencitraan yg bagaimana.
.
.
Lanjut cerita nih gais, masuk ke view cerita
Jumat, 9 maret 2018. 18.00
Ceritanya aku lagi punya hal yg harus ku kerjain nih gais, sambil bawa laptop kecil, handphone dan colokan penyengat listrik aku cari tempat yang kaya wifi tapi ga dermawan, soalnya gak gratis wifi, minimal buat basa-basi harus pesen makanan. Yes, bang, neng. Karena itu tempat makan dan nongkrong, ya seperti cafe yg letaknya di belakang kampus.

Aku ga recomen ngerjain di kos soalnya pasti ujung ujungnya aku bakal molor kalau udah lihat bantal sama selimut. Mata saya kalau udah capek bawaannya jatuh cinta sama kasur.

balik nih ke cerita di cafe tadi. Karena aku niatnya disitu cuman wifian, ok aku pesan makanan yg murah, minuman merakyat kantong. Singkong coklat keju dan es teh total 13 ribu..
termurahnya masih diatas 10 ribu, boleh lah sekali kali gitu tp jangan keseringan, rawan bikin sekarat kantong.

Habis pesen di kasir, aku clingak clinguk. Nyari tempat yg cozzy buat ngegarap si karya. Ok bawah ternyata padet orang, jadi aku mutusin buat naik ke lantai 2. Nah disitu alhamdulillah ya lumayan sepi nih gais..

Jadi adanya 2 orang sejoli ( cewek yg duduk sambil ngobrol enak *gk sadar ku lirik sebentar soalnya kakinya itu ke atas kursi gitu* dan disampingnya ada mas doinya. Disisi lain ada mbk2 sama temnnya yg duduk di paling pojok.. Selebihnya kursi2 kosong..

Kebetulan di tempat pas aku berdiri, dihadapkan dengan pilihan yaitu pertama, 2 kursi- meja yg mana kursinya gk ada senderannya. Dan kedua. Ada kursi memanjang yg ada senderan dan dilengkapi meja. Terus aku lanjut duduk yg jelas di pilihan kedua. Oh iya tempat duduk ku ini  dinomor 12 gais

Sambil cozzy ngetik di laptop sambil ngemil singkong dan nyeruput es teh..hingga terasa pukul 20.30,
Tiba-tiba datanglah segerombolan mas-mas yg mau nongkrong. Mereka terlihat celingukan nyari tempat duduk karena secara kursi-kursi yg lain cuman 2 tanpa senderan, dan cuman kursi memanjang aku yg memungkinkan untuk mereka tempati.


Akhirnya, dengan rasa menyadari diri, aku mempersilahkan duduk mereka,

" Duduk disini aja Mas " sambil pindah kebelakang, di kursi yg gak ada senderannya

"Oh iya. Makasih ya Mbak." Kata masnya.
" Ok," jawabku singkat.

Aku masih lanjut ngerobot ngetik sambil cemal cemil dan nyeruput es teh, hingga udah mulai malem menjelang, pukul 22.00 gerombolan mas mas tadi juga udah pulang duluan, aku masih lanjut ngerjain, mau ikut pulang tapi nanggung, toh belum tutup juga.

Kemudian pas gerombolan mas-mas itu udah pulang, ada gerombolan mbak-mbak gitu, yap mereka nempatin kursi di nomor 12,  ok aku tenang ada temennya buat stay. Lanjut ngerjain sampe 23.00 udah selesai. Kemudian sepertinya mbak2 tersebut juga mau pulang.

Aku turun kebawah menuju kasir, dan pas mau bayar
Aku : " mas meja nomor 12"
Mas kasir : " itu kan mejanya mas2"
Aku sempat kelupaan kalau pindah "
Aku : " oh iya deng lupa, aku udah pindah di nomor 13, tadi pesennya singkong coklat keju sama es teh tawar."
Sambil senyam senyum gaje , mas kasir bilang " udah dibayar mbk sama mas2nya "
Door, aku gak kenal siapa gerombolan mas2 tadi
Aku :" beneran mas?, tapi aku g kenal mereka, gimana?"
Mas kasir : " beneran mbk, udah anggep aja rejeki."
Sambil tersenyum kecil, aku menyampaikan terimakasih.


Sambil pulang, aku memikirkan hmmt alhamdulillah rejeki, ya semoga kebaikan dibalas Sang Pencipta

Terakhir : pesan aku, jangan sungkan untuk menolong gais... Sekalipun g kenal mereka hehe




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...