Langsung ke konten utama

Titik Nol itu ada

Dear, 1 maret 2018

Tepat di awal ini, masih berada di titik nol, sedangkan yg lain mungkin sudah setengah jalan. Disisi ini mungkin akan tertatih perlahan berjalan sendirian dg sedikit belas kasih orang orang yang diminta agar ia peduli. Di titik ini masih terdiam,

ingin berjalan tapi entah mengapa mengumpulkan niat bagai harus mengambil durian dari pohonnya.
Susah, sangat susah.

Jika di ibaratkan ketika bersemangat mungkin akan berlari untuk mengejar orang lain yang telah memasuki gerbong kereta.

Hingga ngos ngosan, dengan napas tersengal sengal, mungkin akan seperti itu hidup masih berada di titik 0. Diam bukan berarti malas, hanya saja butuh paksaan untuk bertindak baik, bukan lagi dorongan.


Beberapa dari mereka sudah membuat target ibarat film trinity the naked travelller , hanya saja target mereka bukan mendaki tapi beragam, yang terkadang target itu nampak rahasia. Tp jika terwujud itu seperti kejutan karena sebagian dari orang orang tiada malu mempublishnya " yes. Aku berhasil."


Tahu tidak, mendengar seperti itu ketika berada di titik 0 , hanya muncul persepsi dari diri, aku pengen berubah atau masih depresi sendiri karena nyatanya titik 0 masih membelenggu


saya hanya ingin curhat, karena sejatinya saya ingin ngobrol tapi ga kesampaian seperti aku  menyimpaan perasaan yg diam diam kala itu. Mungkin sekarang tidak ya. Karena jujur masih berada di titik nol, yang membuat tersiksa.

Sudah dulu ya, aku mau lanjut pulang, dari kerja.

Mojosongo, surakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...