Sabtu,
14 April 2018 disaat para sejoli sibuk menelfoni gebetannya untuk mengajak
liburan, katanya sih biar romantis, sedangkan jomblo yang kayak saya memutuskan
pertemuan dengan seseorang “cewek” , jangan salah sangka bukan gebetan hehehe,
dia teman saya. Inda, seorang teman yang saya kenal dari sebuah organisasi
dikampus, sayangnya bukan di warung burjo, yalah kalau di warung burjo mungkin
tak sekedar kenalan tapi traktiran.
seperti
orang kantoran atau pejabat, janjian kita memang didasari suatu kepentingan.
Kepentingan untuk mencari alat-alat dapur, mangkok-gelas-piring (cuman kurang
nasi lauk pauk ). Tempat yang ditujupun strategis, ga perlu mahal, gini-gini
keluar modal, dan itu adalah Sarde jangan tambah huruf n nanti jadinya masakan
ikan kaleng, uh gurih-gurih lezat.
***
SARAPAN ***
Di
awali sarapan pagi, sekitar pukul 10.00, disertai rasa lapar dan kebingungan
makan dimana, kalau saya bilang ke Inda, yang nasinya lumayan banyak aja,
maklum kalau siang ususnya mulur (sebenarnya jarang makan pagi sama malem, jadi
makan siang aja dan itu nasinya langsung banyak, karena pagi belum makan, dan
malem ga mesti makan.) setelah berbisik-bisik berdua akhirnya kita memutuskan
untuk makan di Budhe Was, (spesialis masakan banyumasan).
Pas
makan sepertinya saya ngga bisa anteng, malah buka topik tentang aplikasi
secreto, itu loh aplikasi yang mana kamu dapat jawaban atau pesan dari orang
lain tapi kamu g tahu sapa pengirimnya), awalnya Inda ku minta isi pertanyaan
buat secretoku biar saya dapat pesan, eh tapi dianya g mau malah kirim
kalkulator cinta, yang bego atau polosnya saya mengisikan nama-nama orang yang
saya taksir untuk dipolling, eh ternyata ke prank, nama-nama itu ke kirim ke
Inda, untung ga kenal yo Nda.
***
ES POTONG ***
Lanjut
nih, menuju TKP di Sarde (alias Pasar Gede), langsung mencari toko perabotan
enyak-enyak, sebut saja Toko Manis (karena saya sedang lupa di usia muda, jadi
maklumlah nama singkat) selesai membeli, kita menuju Beteng yang terkenal akan
kain nya, baju-bajunya. Tapi kita tidak mencari itu, melainkan es krim balok
kecil yang diiris-iris pake belati alias es potong, Ya, inilah kami ketika
orang lain sibuk mencari kain atau baju, kita sibuk mencari ES POTONG. Ditambah
cuaca hujan, jadi kami memutuskan untuk melahap es potong sambil duduk di
emperan pasar, makin ga jelas kehabutannya ya gais, demi sebuah es potong dan menanti hujan reda.Setelah es potong
tinggal batang dan bungkus kertasnya saja, dan hujanpun mulai reda, akhirnya
meneruskan perjalanan ke gramedia.
***
Gramedia ***
Orang-orang
yang memasuki setiap lantai gramedia, sebenarnya mempunyai hasrat ingin
membeli, walaupun belum tentu membeli tapi saya yakin mereka amat menahan
godaan terhadap lembaran-lembaran kertas yang dijilid itu, gak salah termasuk
penulis. Bermodalkan dengan doa, tekad dan nekat dan beberapa lembar uang
sepuluh ribuan ya jika ditotal tidak lebih dari 50 ribu hehehe. Saya
memberanikan diri untuk memasuki setiap lantai di Grameda, ditemani Inda. Disisi
lain, ketika orang-orang asik melihat-lihat buku, seperti antusias membaca
sinopsis yang terletak di belakang cover, justru yang saya lakukan adalah
mengeluarkan buku kecil, dan balpoint 1500 lalu melihat-lihat bagian cover dari
buku tersebut, ya mata saya fokus kepada jenis buku dan penerbitnya.
Lalu
mulut saya komat-kamit menjelaskan beberapa patah kata, karena dari tadi Inda
seperti keheranan melihat saya yang menuliskan beberapa informasi di lembaran**
kertas putih yang saya pegang
Saya
: “Nah, Nda, kalau kita pengen nulis dan kerjasama sama penerbit, dan pengen
tahu penerbit itu kerjasama sama toko buku apa ga ? gini nih caranya (cara yang
gak bermodal), kita ke toko buku terdekat, lanjut catat deh, kira-kira siapa
aja penerbit yang ada di toko buku ini. (tanpa harus beli buku)” Terus kedua,
biasanya penerbit itu punya kecenderungan, kayak dia suka nerbitin tipe tulisan
apa ? kita bisa tahu lewat banyaknya buku yang udah mereka terbitin).
Iseng-iseng
saya tanya “Nda gimana kalau nerbitin buku cinta ?-mainstrem ya” , kata dia udah
mainstem, sambil iseng saya bilang ya
kalau nerbitin tentang cinta itu tentang
jatuh cinta sendirin, terus dia jawab kasian banget tet. Sesekali mata kami
melihat buku yang ada di rak, dan berpindah ke bagian novel horror, banyak
sekali ternyata novel horror seperti arwah, rumah sakit, 1000 setelah kematian
apalah itu. Sesekali kita berpikiran iseng lagi, mending buat yang sangat
sangat mainstrem kalau horror atau triller, kata Inda : gimana kalau kentut, aku
nyambungi : sekalian kotoran manusia. Sempat berpikiran baik, untuk mencari
buku keperluan kuliah, eh malah gak ada, akhirnya ya sudah ditangan hanya
membawa kertas berupa coretan info
tentang penerbit, dan benar-benar gak beli buku sama sekali.
***
Kebingungan Makan yang berakhir Nasgor ***
Saya
sering bingung sama kelakuan hati sama perut yang nga selaras, makan aja
dibikin susah, sore menjelang maghrib kebingungan mencari makan bersama Inda,
gara-gara awalnya pengen makan penyet a (eh tutup), penyet b (eh tendanya ga
ada ), sampai nasi bakar (yang kami lihat posisi sepi boro-boro orang,
gerobaknya aja tak tampak), hingga adzan, bahkan sampai pulang kos. Naasnya kenapa
dimalam minggu, para pedagang memutuskan untuk tidak berjualan, sepertinya
mereka sedang bernostalgia di malam minggu-nge date ala-ala anak muda, saya pun
tak mengerti, yang jelas kalau mau nyari makan di malam minggu itu susah banyak
yang tutup, ndilalah yang tutup itu tempat makan yang enak dan ramai di hari
aktif, akhirnya rencana makan malam kita berhasil kita tuntaskan dengan iklas
hati memilih nasi goreng di depan kampus.
Perkenalkan
namanya Inda Lusiana, sebenarnya kemarin saya sudah berhasil jepret pose
polosnya waktu makan nasgor, tapi karena terlalu lihai, poto polosnya entah
sudah tidak ada di handpone saya lagi.. kalau Om Roy Kiyoshi nerawang : Robby,
sepertinya aku mencium bau foto yang di delete hehehe.
Terus saya bilang mau
nyolong fotonya, dia request yang pake baju merah yang cantik fotonya.
Saya jawab
lah “itu namanya sama seperti minta dengan baik-baik.”

Komentar
Posting Komentar