Langsung ke konten utama
Cerpen Kedua, 31 Agustus 2016 The Legend Of Bumiati Oleh : Fenty Mustikasari “ Ning..nong ning...gung..” Suara alunan gamelan terdengar syahdu mengiri pementasan Tari Ronggeng Dukuh Klayang. Sumiati terus meliuk-liukkan badannya, mengikuti alunan suara gamelan. Sekilas dia mengkibaskan selendangnya, membuat tariannya nampak menawan. Sumiati merupakan seorang penari Ronggeng di dukuh Klayang. Selain dikenal sebagai penari Ronggeng yang lincah juga memiliki paras yang ayu. Maka tak heran banyak pemuda yang terpikat dan berniat hati untuk mempersunting Sumiati. Namun sayang, belum satupun lamaran pemuda tersebut berhasil. Desas-desusnya, karena Keluarga Sumiati bermata harta. Seusai pementasan tari, Sumiati pulang kerumahnya, disertai perasaan was-was. Ketika masuk ke dalam rumah, Sumiati melihat bapaknya sedang duduk bersandar di ruang tamu. Kemudian Sang Bapak berdiri dan memanggil Sumiati. Sumiati telah punya firasat bahwa bapaknya akan memarahinya seperti biasa. Ia tahu bapaknya tak pernah suka apalagi setuju dengan kegiatan menari Ronggeng yang dilakukan oleh Sumiati. Demi kecintaan Sumiati pada Seni Tradisional yakni Tari Ronggeng, dan membuat senang para warga, Sumiati rela melakukan hal yang beresiko bahkan sampai sembunyi-sembunyi, walau terkadang rencana tidak berjalan mulus, dan berakhir ketahuan seperti malam ini. Mendengar perkataan Sang Bapak, Sumiati sangat tercengang. Kali ini kemurkaan Sang Bapak seolah-olah sudah mencapai tingkat klimak. Sumiati sungguh tak menyangka, bahwa Bapaknya akan menghukum dirinya dengan cara seperti ini. Dia merasa seperti diperlakukan tidak adil, setelah keinginan akan kesukaannya dibatasi, kini giliran jalan hidupnya juga dibatasi. Mau tak mau, ia harus dipingit dan menikah tapi bukan dengan pilihannya sendiri. Sebenarnya Sumiati sudah menaruh harapan kepada seseorang, Namun melihat sikap keluarganya, Sumiati paham bahwa harapannya hanya sebatas harapan, yang susah sekali untuk terwujud. Hari-demi hari, Sumiati harus menjalani masa-masa pingitan dengan ikhlas dan sabar. Sumiati kini tidak bisa lagi melihat tawa canda penonton karena pingitan ini membuatnya terbelenggu dalam rumah dan tidak diperbolehkan keluar sampai masanya tiba. Sepintas ingatan tentang Kakang Arya Bumi, tiba-tiba muncul begitu saja. Sumiati masih ingat ketika pertemuannya dengan Kakang Arya Bumi di sebuah perjalanan pulang dari ladang. Saat itu ia melihat ksatria yang terluka parah, kemudian Sumiati menolongnya. Mulai ketika itu, bunga asmara mulai mekar diantara mereka. Arya Bumi juga sempat tinggal di desa Klayang walau hanya dalam rentan waktu dua minggu, setelah itu ia memutuskan untuk mengembara menyelesaikan mandatnya. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Sumiati jika suatu saat ia akan menjemput pujaan hatinya dan menjadikannya seorang istri, dan memberikan Sumiati gelang manik-manik tanda cintanya. Sebelum prosesi akad nikah di gelar, terdapat prosesi lamaran. Ketika proses lamaran di gelar, beberapa orang yang mengurusi lamaran, agak lumayan heran dengan pasangan Sumiati. Hal ini dikarenakan pasangan Sumiati yakni seorang Kompeni. Sumiati juga terkejut mengetahui keadaan ini, namun apalah daya, Sumiati harus menerima dengan ikhlas, pilihan kedua orang tuanya, bahkan jika harus menikah dengan seorang Kompeni. Waktu terus berjalan, hingga hari pernikahan itupun tiba.Upacara pernikahan Sumiati dilaksanakan dengan proses adat Jawa, dan begitu meriah. Sumiati sangat berharap Arya Bumi akan datang, dan menggantikan posisi Kompeni, namun hingga prosesi akad nikah selesai, Arya bumi tak kunjung datang. Harapan itu seolah pupus, dan kini Sumiati telah resmi menjadi istri seorang Kompeni. Kompeni meminta ijin kepada orangtua Sumiati unntuk memboyong istrinya ke rumahnya. Bapak dan Ibu Sumiati memperbolehkannya, dengan langkah yang berat Sumiati meminta doa restu serta pamit meninggalkan orang tuanya. Ketika memasuki dalam rumah, Sumiati begitu kaget tatkala, melihat ada seorang Noni Belanda yang berdiri menatap Sumiati begitu tajam. Kompeni menjelaskan bahwa Noni tersebut adalah istrinya, betapa kagetnya Sumiati mengetahui hal terbut. Kompeni menjelaskan bahwa Istrinya tak bisa memiliki anak, maka istrinya menyuruh Kompeni untuk mencari gadis pribumi dan menjadikannya istri selir. Seusai Kompeni menjelaskan kepada Sumiati, kini giliran Noni yang berbicara. Noni mengatakan bahwa Sumiati boleh tinggal disini dengan pilihan, pertama Sumiati boleh tinggal disini sampai anaknya lahir, dan dia harus tidur digudang, setelah itu Sumiati boleh pergi. Kedua Sumiati bisa tinggal selamanya disini, dan melihat anaknya namun ia harus menjadi pembantu, Sumiati juga tetap tidur digudang, jika ia mencoba kabur sebelum batas waktu yang ditentukan, maka Sumiati akan mati. Sumiati pun dengan rela, memilih pilihan kedua, hal ini dilakukan agar dia tetap bisa melihat anaknya, walau ia harus menjadi pembantu untuk seumur hidupnya. Waktu terus berjalan, tak terasa hampir setahun. Sumiati melaluinya dengan ikhlas, bahkan ketika anaknya telah lahir, dia juga harus ikhlas jika anaknya diasuh oleh Kompeni beserta istrinya. Sumiati harus tegar dengan cobaan dan siksaan, seperti pukulan, tamparan, tidak ada jatah makan sehari karena dia melakukan kesalahan, dan sebagainya. Hingga pada suatu ketika, Arya Bumi datang kembali ke desa Klayang untuk memenuhi janjinya. Betapa kagetnya ia mengetahui bahwa Sumiati telah menikah dengan Kompeni. Ia juga mendengar kabar bahwa Kompeni menikah dengan Sumiati, dikarenakan istri Kompeni tidak bisa memiliki anak. Hanya karena cintanya kepada Sumiati yang begitu besar, Arya Bumi nekat menculik Sumiati dan membawanya pergi. Ditemani pengawal setianya Arya Bumi menyamar sebagai saudagar yang diutus datang kerumah Kompeni, sesampainya di dalam rumah Kompeni ia disambut oleh Sumiati beserta Noni. Betapa kagetnya Sumiati mengetahui kedatangan Arya Bumi. Di dalam hati kecil Sumiati ia sangat senang, akan tetapi ia juga merasa bersalah. Arya Bumi dan pengawalnya melakukan mantra sirep, sehingga orang-orang yang ada di dalam rumah Kompeni tertidur, termasuk Sumiati dan Noni. Melihat semua orang telah tertidur, ia beserta pengawal membawa Sumiati beserta bayinya pergi. Keesokan harinya, kabar kepergian Sumiati dan hilangnya putra Kompeni, menggemparkan seisi rumah Kompeni. Kompeni pun pergi ditemani prajurit dan istrinya. Setelah melakukan perjalan akhirnya mereka menemukan persembunyian Sumiati. Kompeni menyuruh Sumiati untuk menyerahkan diri, jika tidak ia akan mati. Arya bumi dan pengawalnya mencoba melakukan perlawanan. Pengawal Arya Bumi dengan sigap langsung menarik anak panah, dan melepaskan anak panah tersebut ke arah Kompeni, namun meleset menimpa Noni, Nonipun akhirnya tewas terhunus anak panah. Melihat keadaan tersebut Kompeni tak langsung diam, ia mengarahkan pistol dan menembakkannya ke arah Arya bumi dan pengawalnya namun Sumiati mencoba melindungi, Sumiati akhirnya juga tewas terkena peluru. Arya Bumi langsung mengarahkan anak panah ke Kompeni, anak panah Arya Bumi melesat ke dada Kompeni. Kompeni pun tewas. Untuk mengenang tragedi berdarah ini, Arya Bumi menemakan daerah persembunyiannya dengan nama Bumiati, hal ini juga dijadikan sebagai bukti perjuangan hidup dan kisah cinta Arya Bumi dan Sumiati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...