Langsung ke konten utama

Rahasia



Bernostalgia pada hal yang masih menjadi kesunyian 
Hingga sampai kapan mulut kita mengatup dan terkunci rapat-rapat 
Melihat seolah tak ada cela sesuatu padahal sesungguhnya ada yang harus dipecahkan 
Aku atau kamu sebenarnya bantas untuk berbicara sesuatu
Namun pikiran kita tak pernah setuju 
Maka tindak itu pun tiada pernah terjadi 

Mataku kelu Matamupun tiada berbeda
Seperti ada yang kita sembunyikan dibalik bola mati ini 
Namun masih saja berberat langkah Walau kita berbalik arah, tetap saja masih tertutup bukan 
Karena kita memang tiada ingin membuka pintu-pintu itu 
Pintu-pintu yang biasa disebut pintu kesunyian 
Yang berisi hal besar, mungkin lebih besar dari pemikiran kita 

Dibelakang sisi jahitan kain, tanganku mengepal, 
Tanganmu pun terlihat sama
Ada sesuatu yang ingin ditunjukan 
Lalu berpindah didepan sisi jahitan kain 
Kini ku kepalkan tanganku dihadapanmu 
Posisimu kini menyemaiku 
Hebat, tangan kita berada di posisi yang sama 
Sungguh Seimbang 

Karena itu pula, kita menyerah 
Membuka perlahan kepalan ini, dan ternyata kosong 
Sepertinya sesuatu itu telah menghilang 
Bisa pula berpindah tempat 

Kita memang tak benar-benar menyerah 
Hanya saja, masih lihai menyembunyikan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...