Langsung ke konten utama

Seumur Jagung Semanis Lollipop

Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, Sang Surya belum merundukan sinarnya. Suara tawa anak-anak kecil seakan-akan memanggil Denis untuk bergegas ke luar rumah. Sambil mengeluarkan sepeda, Denis meminta izin kepada Ibunya, “Bu, Denis izin main dulu,” “Hati-hati Sayang, sebelum maghrib kamu harus pulang !” perintah Ibunya. “Iya, Bu,” jawab Denis. Bersama angin sepoi-sepoi dan cahaya langit sore yang bersurai emas, Denis dan kedua temannya mengayuhkan sepeda mereka. Tiba-tiba, ayunan sepeda mereka terhenti di depan rumah tembok bercat biru. Nampak sebuah keluarga sedang sibuk menata barang dan memasukkannya ke dalam rumah tersebut. Terlihat pula seorang gadis kecil yang berdiri sembari menggendong bonekanya. “Kita mendapatan tetangga baru,” ucap Denis. “Benar juga,” sahut Aldo dan Rehan. Selanjutnya mereka pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Denis menceritakan hal ini kepada orangtuanya. Hari esok pun tiba, Denis bergegas berangkat ke sekolah. Suasana ruang kelas ramai seperti biasanya, lalu Ibu Guru memasuki ruang kelas. Mendadak suasana menjadi tenang. “Anak-anak, sebelum memulai pelajaran, Ibu akan memperkenalkan teman baru kalian,” kata Ibu Guru. “Ini namanya Lala, dia berasal dari Manado, dan bersekolah disini karena ikut orang tuanya bekerja, silahkan Lala kamu memperkenalkan diri,” kata Ibu Guru. “Namaku : Adhila, biasa dipanggil Lala,” kata Lala “Baiklah Lala, kamu bisa duduk di samping Denis,” ucap Ibu Guru sambil menunjuk ke bangku di samping Denis,” Lala pun duduk di samping Denis, kemudian mengeluarkan buku tulisnya, belum ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Denis pun mengulurkan tangannya dan berkata, “Namaku Denis.” “Namaku Lala,” gadis itu membalas uluran tangan Denis sembari tersenyum. “Tet...,” bel tanda istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar, inilah waktu nostalgia yang ditunggu mereka. Hal berbeda ditunjukan oleh Lala, dia tetap duduk di bangkunya lalu mengeluarkan bekalnya. Tak disangka datanglah Kenthung, anak gendut yang berusaha merebut bekal Lala. “Jangan diambil, itu bekalku!,” teriak Lala sambil menangis. Ketika mendengar suara teriakan, Denis yang sedang bermain di luar kelas segera masuk ke dalam kelas dan berusaha melawan Kenthung. Ibu Guru pun datang untuk melerai. Akhirnya Pertikaian usai dan Ibu Guru memarahi Kenthung, karena ia bersalah. Melihat Lala yang masih menangis, Denis mencoba menenangkan. “Sudah jangan menangis, Aku punya Lollipop, ini untukmu.” “Oh iya, aku juga bawa bekal,” Kata Denis sembari mengeluarkan bekalnya. Nampak dua buah jagung rebus di dalam kotak makan Denis, ia pun menawarkan kepada Lala. “Ini makanan favoritku, kamu mau?” “Terimakasih, ini sudah cukup,” kata Lala dengan menunjukan Lollipop pemberian Denis. Akhirnya pelajaran usai, semua siswa beranjak pulang. Lala berjalan menghampiri Mang Supirnya yang asyik selfie. Disisi lain Denis sedang berjalan keluar, lalu lala memanggilnya dan meminta Mang Supirnya untuk memfoto mereka berdua. Tiap sore, Denis selalu mengajak Lala bermain bersama Aldo, Rehan dan teman-teman lain. Hal ini semakin menambah keakraban mereka. Bahkan, ketika Lala menangis karena dia belum dijemput dan kala itu hujan disertai petir. Denis menemaninya, tak lupa ia juga memberinya Lollipop. Memang, Denis sering sekali memberikan Lala Lollipop, karena hal itulah yang bisa membuat Lala tersenyum. Dua minggu berlalu, Denis mengajak Lala ke taman. Denis meminta Lala untuk menutup matanya, ia pun menuntun Lala pada suatu tempat di taman. Sesudah sampai di tempat yang dituju, Denis menyuruh Lala untuk membuka matanya. Disitu terdapat gambar berbentuk hati dan huruf yang bertuliskan Denis dan Lala yg ia buat diatas tanah. Denis pun mengeluarkan Lollipop dan berusaha mengutarakan sesuatu kepada Lala. “Lala, aku sayang kamu,” ucapnya. Lala pun tersenyum seraya berkata, “Aku juga sayang kamu Denis.” Tapi tak lama berselang, air mata menetes dari pijar mata Lala, dan berkata, “Kami sekeluarga akan kembali ke Manado.” Denis sangat terkejut mendengarnya, disisi lain, Bi Sum menghampiri Lala dan mengajaknya pulang. Denis pun turut mengikutinya. Sesampainya di rumah Lala, tampak keadaan rumah sudah kosong karena barang-barang sudah di angkut. Sebelum masuk ke dalam mobil, Lala memberi Denis sebuah foto bergambar wajah mereka. “Simpan foto ini, ku harap kita bisa bertemu lagi, makasih untuk semuanya,” kata Lala “sama-sama, aku akan berdoa supaya kita berjumpa kembali,” jawab Denis. Lala pun masuk ke dalam mobil, akhirnya mobil itu beranjak pergi, Lala melambaikan tangan ke Denis dari kaca jendela. Denis juga melambaikan tangan ke arah Lala. Denis pun menyimpan foto itu, meski kehadiran Lala seperti umur jagung alias sebentar, namun telah membawa kisah, semanis permen Lollipop.

Profil Penulis :
Nama : Fenty Mustikasari
Alamat : Perum Griya Lusah Pratama, B18, Prawatan, Jogonalan, Klaten (Kode pos : 57452)
Mahasiswa PPKN Universitas Sebelas Maret Aktif di Komunitas Menulis (SNSD) UNS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi ( Bagian 1 : Barista )

Terkadang aku ingin menjadi seorang barista. Supaya aku tahu takaran manisnya kopi  Terkadang aku ingin menjadi seorang barista  Supaya aku bisa lihai menjadikan kopi lebih indah di pandang matamu  Wahai bubuk bubuk hitam pekat  sekarang aku lebih percaya kopi lebih enak rasanya Sekarang aku tahu ada yg lebih pahit dari pada kopi tanpa gula  Kopilih jatuh cinta hanya sesaat at
GADIS Seorang gadis tertatih untuk berjalan, satu persatu dipijaknya tanah yang haus akan tetes air. Menulusuri tiap lorong ruang kelas yang ada, tak dihiraukan olehnya riuh suara-suara itu,  ah tiada penting pikirnya.  Sekias ia menatap keadaan untuk menyatakan dirinya baik-baik saja, senyumnya yang lugu bahkan mampu menyembunyikan rahasia besar yang mungkin tak ingin ia ceritakan. Tak tahu pasti mengapa ia tidak ingin mengeluarkan sebuah huruf dari bibirnya. Ya, gadis itu membiarkan bibirnya terkunci rapat. Entahlah, di benaknya hanya terbesit, aib baginya untuk bercerita.  Atau pikiran lain yang mungkin melayang-layang di selaput otaknya. Mungkin ia akan membagi sebuah cerita, tapi ia tahu cerita itu takkan membiarkan bahagia justru sebaliknya. Mungkin saja itu beberapa dari sekian alasan tak ingin bercerita karena tiada mau membagi sebuah deru air mata. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab.  Sejenak ia menghentikan langkah kakinya...

Sepi Disepuluh Februari

Aku mencoba melawan waktu Tapi aku tak bisa menolak lupa  Aku mencoba memejamkan sendu  Di sepuluh februari yg ini kamu tak ada  Berpaling  Merinding diujung ujung hari  Aku takutkan, tapi tak ingin pusing  Tentang rindu yg tak terbalas hingga kini  Tentang kepergian, yg membawa ke sosok Sosok itu orang baru  Yg ku lihat, di beberapa waktu yg lalu  Lewat gambar yang dikirimkan teman padaku  Sejelas mataku memandang foto itu kamu Senyum bahagia dengan buket bunga ditangan  Untuk orang lain bukan ?  Karena untuk daku itu hanyalah angan Hai, kenangan  Kamu mungkin lupa sepuluh februari  Penting juga tidak, ya. Aku ini .. Hanya masalalu yg menolak sepi  Hai kenangan,  Mungkin yg kamu tahu saat itu 10 februari aku terlahir kembali  Tapi yg aku tahu, mungkin kini sudah lupa Pagi ini disepuluh februari  Segelintir orang menyatakan sela...